CoretanQ

SEMUA SERBA PERTAMA KALI
"SIM atau STNK?"
Entahlah ini bisa disebut cerita konyol ataupun bukan, tapi yang jelas aku hanya ingin menuliskan kejadian yang telah aku alami dalam bulan ini. Yaitu 2 pekan yang lalu tepatnya tanggal 11 Januari bertepatan dengan hari jum’at, sepulangnya aku dari kerja praktek, karena tepat liburan pada semester 5 ini aku mengambil mata kuliah kerja praktek Di PT. PLN Kabupaten Bangkalan.
Oke lanjut cerita aja J, karena jarak antara kontrakanku dengan tempat KP (baca: Kerja Praktek) kira2 sekitar 17 km. pada hari itu aku mendapat pinjaman motor dari teman yang kebetulan pulang dan motornya dititipin, nekadnya motor itu aku bawa buat KP, dan itu adalah kali pertama aku naik motor, benar2 nekad lha wong baru bisa naik motor, dan dirumahpun gak pernah kemana2 hehehe... alhamdulillah pada waktu berangkat lancar2 aja dan sampai pada tujuan dengan selamat. Setelah waktunya pulang sekitar pukul 15.30 aku meninggalkan tempat KP dan dengan harapan yang sama bisa sampai kekontrakan dengan selamat pula, perjalanan lancar sampai sekitar jarak 3 km. aku berhenti di per3an karena ada lampu merah dan aku menempati posisi didepan karena lampu hijau baru saja berganti merah, dengan santainya aku berhenti di sebelah kiri jalan dan sambil menunggu waktu menit yang mundur, tiba2 dari belakang ada suara klakson yang berkali2 dan lewat begitu saja melewati lampu merah dan belok ke kiri sambil memandangiku, kemudian aku lihat pengendara motor yang lain berhenti disebelah kanan jalan dan melihatku pula, spontan aku merasa aneh, kemudian aku minggirkan motorku lebih minggir lagi ke kiri agar orang tak terhalangi ketika mau lewat seperti motor yang membunyikan klakson tadi, tak lama kemudian seorang polisi keluar dari pos yang ternyata pas disebelah kiri jalan lampu merah, dengan melambaikan tangan dia menyuruhku belok ke kiri, dan dengan ekspresi yang entah polos atau bisa dibilang agak oon aku yang memakai helm mengisyaratkan dengan tangan seperti dada dan menunjuk arah lurus (maksudku memberi tahu kepada polisi tersebut kalau aku bukan kearah belok kiri, tapi terus). Polisi tersebut tetap melambaikan tangan, dan aku baru paham kalau ternyata aku diminta ke arahnya yang kira-kira 3 meter dari tempat aku berhenti. Dan dari situ aku baru sadar kalau aku melakukan kesalahan, “haduh,,, gawat..”, kataku dalam hati,  setelah tepat ada dihadapan polisi kemudian dia berkata “selamat siang mbak, bisa ditunjukkan surat2nya?”.. kemudian aku serahkan STNK motor yang aku bawa,
 “tahu apa kesalahannya  mbak?”, lanjutnya..
“iya pak, berhenti disebelah kiri”,.
“mbak tahu kalau jalan sebelah kiri itu adalah untuk pengendara yang akan belok ke kiri dan akan jalan terus walaupun lampu merah?”, tetap dengan pertanyaannya selanjutnya.
 “iya pak”, aku hanya manut2 menjawab iya,
padahal memang aku baru tau waktu itu juga pikirku dalam hati,
“ya udah mbak ayo masuk”, kemudian polisi itu mengajakku masuk ke posnya sambil membawa STNK dan menyuruhku memarkir motornya.
            Gak cukup sampai disitu saja, di dalam pos aku masih di wawancarai, eh salah maksudnya interogasi, oleh polisi yang lain, berbagai pertanyaan yang ditanyakan, dari kemana tujuanku, dari arah mana aku, pelanggaran yang aku lakukan, dan ujungnya adalah pada sangsi yang aku dapat, dan akhirnya surat berwarna merah melayang dari tangan polisi tersebut,
“huft,,, kena tilang”, batinku,
“punya SIM?”, tanyanya,
“iya pak”, jawabku,
“mana?”, kemudian polisi itu memintanya, dan segera aku keluarkan dari tas ranselku. Dalam hati aku terus perbikir, mungkin polisi itu bingung kali ya, punya SIM kok rambu2 kayak gini aja gak tau, hehehe.. maklum lah pak buat SIMnya lewat “belakang”, karena pintu depannya ditutup… hehehe…
 “yang mau ditahan SIM apa STNKnya??” tanyanya lagi,
“SIM pak”, dengan tegas aku jawab,
ya iyalah masa STNKnya, motor aja punya orang, pikirku..
kemudian dia masih sibuk menulis surat merah tersebut dengan biodata diriku, aku kira polisi tersebut akan meminta sejumlah uang untuk kesalahanku ini, karena setiap aku dengar teman2 yang kena tilang akan dimintai sejumlah uang,, hmm… padahal waktu itu uang yang aku bawa gak sampai 50 ribu, ternyata TIDAK, aku malah diminta mengikuti sidang yang dilaksanakan akhir bulan, tanggal 30 januari..
“kalau tidak bisa ikut sidang gimana pak??”, tanyaku, maunya ngeles gitu.
“diwakilkan mbak”, jawab polisi tersebut.
Aku terus melobi bagaimana caranya biar gak ikut persidangan, dan berharap hanya dimintai uang saja, ternyata gak bisa, tetap sidang, mungkin salah satu faktornya karena aku memang gak tau sama sekali tentang hukum. Okelah akhirnya aku turuti saja, dan gak mau berlama2 dengan polisi2 ini.
 “besok sidangnya jam brapa pak?”, tanyaku,
“jam berapa aja, tapi jam 8 saja biar segera selesai,” jawabnya,
“gak perlu bawa apa2 pak?”, lanjutku,
“gak perlu,,,” kemudian polisi tersebut memberikan surat tilangnya sambil berkata “ini penggantinya SIM sementara kalau ada apa2”..
            Dan akhirnya selesai sudah proses tilang tersebut, dan aku pulang dengan perasaan gak karuan, antara sebel dengan polisi, takut, dan pngen tertawa karena kesalahanku tersebut…
                                                                                               
Memory in January, 18th 2013

0 Response to "CoretanQ"